Semua wanita yang sedang hamil, tentunya ingin melahirkan secara normal dengan lancar tanpa ada hambatan apapun. Tetapi kadang ada wanita yang sudah mendekati dengan persalinan, namun tidak ada tanda-tanda apapun untuk segera melahirkan, sehingga harus melakukan cara induksi, untuk supaya  bisa merangsang rahim untuk berkontraksi sehingga air ketuban pecah. Untuk itu, dalam tulisan kali ini akan memberikan informasi tentang 2 jenis induksi persalinan sebagai berikut :

  1. Induksi Mekanik

Induksi ini dilakukan guna merangsang kontraksi rahim dengan melakukan pemisahan antara dinding rahim bunda. Sehingga, semakin banyak daerah yang terpisah, maka semakin cepat ia terinisiasi. Ada 3 alat yang digunakan untuk melakukan induksi ini, yakni laminaria, foley catheter, dan stripping of the membranes. Untuk lebih jelasnya berikut ulasannya :

– Laminaria, merupakan alat seperti batang lidi, dengan memiliki ukuran kurang lebih 5-7 cm. Nantinya alat ini akan dimasukkan ke dalam rahim untuk memisahkan dinding rahim dengan selaput ketuban.

– Foley catheter, merupakan alat yang berbentuk selang kateter yang nantinya akan dimasukkan ke mulut rahim. Pada bagian ujungnya, ada benda berbentuk seperti balon kecil yang berfungsi untuk merangsang pemisah dinding rahim dengan dinding ketuban.

– Stripping of the membranes, adalah pemeriksaan digital yang menggunakan jari si pemeriksa mengitari daerah serviks. Cara ini bisa dilakukan jika ibu hamil sudah pembukaan minimal 3-4 cm.

  1. Induksi Mentosa

Induksi Mentosa ini merupakan metode induksi dengan menggunakan obat-obatan. Nantinya, obat-obatan ini akan berfungsi di reseptor-reseptor dalam rahim. Dalam hal ini ada 2 jenis obat induksi yang bisa digunakan, yakni oksitosin dan protagladin E1. Oksitosin ini merupakan sebuah obat berupa cairan dan dimasukkan melalui selang infus. Sedangkan prostagladin E1 adalah obat yang berbentuk tablet dan bisa dimasukkan ke vagina dengan tablet khusus (intravaginal), atau diminum. Dosis yang digunakan berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan bunda. Untuk memilih cara mana yang cocok dengan bunda. Dokter akan melihat sesuai dengan kondisi mulut rahim bunda. Mulut rahim bunda akan dinilai apakah sudah matang atau belum, jika belum matang, maka akan dilakukan induksi medical mentosa. Namun, jika sudah matang akan dilakukan induksi mekanik.

Setelah anda diinduksi, setiap 6-8 jam sekali dokter akan selalu memantau kondisi bunda. Cara pemeriksaannya juga dilakukan step by step dari fase latern hingga fase aktif. Jika bunda sedang dalam fase latern, target pembukaan minimal 3 cm. Sedangkan jika sudah dalam fase aktif, target pembukaan adalah 10 cm. Namun, jika dalam 3 kali pemantauan atau 24 jam (3×24 jam) belum ada perubahan yang signifikan, dokter akan melakukan re-evaluasi atau pengulangan proses induksi. Bukan hanya itu, bunda dan sang bayi juga akan diperiksa kadar toleransi alias kuat atau tidaknya untuk melakukan induksi persalinan.

 

Hal yang harus diperhatikan sebelum induksi persalinan

– Sebelum memutuskan untuk diinduksi, bunda harus yakin bahwa resiko yang bisa bunda terima ketika melanjutkan kehamilan lebih besar dibandingkan resiko yang ada ketika anda memilih untuk dilakukan induksi.

– Anda juga harus menyadari bahwa ketika dilakukan induksi, maka bayi anda harus segera lahir. Sehingga, apabila tidak bisa lahir atau gagal induksi maka jalan satu-satunya adalah dengan cara di cesar. Dan menurut penelitian induksi meningkatkan kejadian SC.

– Selama kehamilan serviks tertutup, tebal, dan menyelip ke bagian belakang vagina. Ini artinya bunda dapat memiliki kontraksi tanpa terjadinya pembukaan leher rahim. Supaya leher rahim bisa merespon kontraksi, perlu membuat sejumlah perubahan fisiologis yang kompleks.

Demikianlah informasi kali ini semoga ada guna dan manfaatnya.