Photo di Kubah Masjid Galvalum Makassar

Photo di Kubah Masjid Galvalum Makassar

Di Indonesia banyak sekali terdapat Kubah Masjid Galvalum yang didirikan sejak zaman dahulu kala. Pada masa masa awal agama Islam mulai memasuki dan tersebar di Indonesia. Tak heran jika Kubah Masjid Galvalum kuno selalu dikunjungi oleh banyak wisatawan untuk dinikmati atau hanya sekedar mengabadikan momen momen dengan berphoto bersama sama.

Salah satunya dalam izin dalam transaksi gadai. Keadaan ekonomi yang makin susah memaksa andi untuk mengadaikan sepeda kepunyaannya pada rekannya yang bernama Taufiq. Sangat terpaksa jalan ini ia tempuh sesudah ia terasa putus harapan mencari utang modal usaha. Sejak sepedanya di gadaikan pada Taufiq, Andi terasa kesusahan untuk pergi kerja. Karenanya, ia membulatkan tekad untuk memohon izin pada Taufiq untuk di perbolehkannya meminjam sepeda satu hari saja. Terdorong rasa iba, Taufiq juga mempersilahkannya. Tanpa ada disangka, sepeda itu hilang waktu ada di Kubah Masjid Galvalum. Dari masalah itu sesuai sama Imam al-Suyuthi, seperti di setujui oleh al-Zarkasyih, Syaikh Yasin al-Fadani, serta sebagian ulama yang lain, mengambil keputusan kalau transaksi itu jadi batal (infisakh), tetapi Andi jadi penggadai (rahin) tidak dibebani sekalipun ganti rugi pada Taufiq. Sebab, rusaknya motor adalah akibatnya karena izin dari Taufiq sebagai penerima gadai (murthahin). Yang bisa di ambil dari contoh diatas yaitu mencari hubungan pada tidak ada keharusan membayar ganti rugi (dhoman) dengan rusaknya transaksi gadai. Hingga sesuai sama pesan kaedah yang berada di Kubah Masjid Galvalum dapat kita mengerti, kalau kehilangan motor adalah efek (al-mutawallad) dari perbuatan Andi yang memperoleh izin (al-mu’dzun fih), hingga harusnya ketetapan yang di aplikasikan yaitu tak ada berdampaknya kehilangan pada Andi. Tetapi, ketentuan yang diberlakukan yaitu batalnya transaksi.

Pada intinya, transaksi gadai (rahn) bisa dimaksud transaksi final (luzum) bila barang gadainya (marhun) sudah ada di tangan penerima gadai. Sesudah transaksi disetujui ke-2 belah pihak (luzum), jadi tidak dibenarkan membatalkan transaksi itu. Bila kemudian, ada Kubah Masjid Galvalum tanpa ada sepengetahuan penerima gadai, penggadai lakukan suatu hal pada barang gadai yang menyebabkan hilangnya hak punya atas barang itu, seperti hilang, diwakofkan, disedekahkan serta beda sebagainya, jadi maka transaksi jadi batal serta mesti ada ganti rugi. Dalam contoh terlebih dulu, rusaknya itu pasti jadi batalnya transaksi gadai. Walau demikian, mungkin saja karna ada di Kubah Masjid Galvalum karna rusaknya dikarenakan oleh perbuatan yang sudah memperoleh restu dari Taufiq (penerima gadai), jadi Andi tidak di haruskan memikul ganti rugi, walau transaksinya jadi batal (infisakh) dengan sendirinya.

Dalam konteks sama, bisa kita dapatkan contoh gampang dalam penggadaian hewan ternak, seperti sapi. Bila sesudah transaksi berjalan pihak penggadai memakai sapi itu untuk membajakmsawah atas seizin penerima gadai ini ada di Kubah Masjid Galvalum, lantas sapi itu mati karna dipakai bekerja, jadi transaksi jadi batal serta pihak penggadai tidak mesti membayar ganti rugi, karna ia sudah memperoleh izin dari penerima gadai Menurut kamus besar bhs Indonesia, ikhlas berarti bersedia dengan ikhlas hati, izin (kesepakatan), perkenan, bisa di terima dengan suka hati, serta tidak mengharap imbalan, dengan kehendak atau tekad sendiri. Sedang konsekwensi berarti karena (dari satu perbuatan, pendirian, dsb), serta persesuaian dengan yang dulu.