Ungkapan Agus Purnomo Terkait Kelapa Sawit Berkelanjutan

Usaha menghambat product turunan minyak kelapa sawit masuk ke Uni Eropa jadi satu problem yang saat ini dihadapi industri kelapa sawit di Indonesia. Benua biru itu sampai kini jadi pasar ke dua paling besar Crude Palm Oil (CPO) asal Indonesia.

Namun, rintangan masuk ke Eropa cuma satu dari problem yang dihadapi industri kelapa sawit. Didalam negeri, problem keberlanjutan produksi, karena perubahan iklim jadi masalah yang butuh dicarikan jalan penyelesaian.

Menurut Agus Purnomo, Managing Director Sustainability serta Strategis Stakeholders Engagement Golden Agri-Resources Ltd perusahaan berbasiskan di Singapura yang disebut group usaha PT Cahaya Mas Agribusiness and Food Tbk (SMART) ini, pemakaian tehnologi dan membuat kultur kebun yang humanis serta sustainable jadi kunci untuk menanggung kelangsungan produksi.

Agus terlibat perbincangan sekitar pemberdayaan serta penambahan produksi kelapa sawit. Petikannya :

Sampai kini apakah memanglah ada kecenderungan penurunan produksi tanaman sawit pada umumnya?

Namanya tanaman ada saatnya panen raya, serta ada bebrapa bln. yang buahnya sedikit. Kemampuan pabrik kami dalam setahun juga akan terdapat beberapa bln. yang dibawah kemampuan, hingga mesti beli buah dari luar, bila buahnya sekali lagi banyak, kita tidak beli dari luar.

Bagaimana dengan masalah kekeringan serta kebakaran rimba, apakah itu merubah volume produksi?

Buah itu bergantung iklim, tanaman sawit itu bergantung curah hujan. Curah hujannya itu yang terbaik yaitu selama th. ada hujan, problemnya kita miliki kemarau. Bila kemaraunya berkelanjutan automatis pada th. tersebut buahnya juga akan alami penurunan.

El Nino 2015 yang menyebabkan kebakaran itu buat produksi th. 2016 turun, jadi di 2017 terdapat banyak kebun yang terserang. Memanglah efeknya tidak saat itu juga, efeknya satu tahun lalu. Karna tempo hari 2017 tak ada kekeringan serta kemarau berkelanjutan, jadi 2018 ini diprediksikan produksi juga akan sedikit lebih tinggi.

Apa sajakah inovasi yang dikerjakan SMART untuk tingkatkan standard kualitas perkebunan?

Bila yang telah kita umumkan tempo hari kan bibit telah sukses diperkembang Eka-1 serta Eka-2, bibit kami dapat hasilkan buah dengan minyak kelak juga akan diatas 10 ton per hektar yang rata-rata saat ini bila petani swadaya hanya 2-3 ton, industri rata-rata 6 ton, kita di taraf yang lebih kecil uji cobatasi dapat sampai 12 ton per hektare.

Ada intervensi tehnologi serta budidaya?

Sebenarnya tanaman itu beragam macam bergantung nenek moyang tanamannya. Ada dari negara spesifik yang lebih kuat pada kekeringan, ada yang lebih kuat pada banjir, ada tanaman yang hasilkan buah ketika (tanaman) masih tetap pendek, ada yang umurnya panjang berbuah selalu.

Jadi kita kumpulkan beragam pokok tanaman gunakan penyilangan umum. Hingga dapat memperoleh karakter yang paling unggul yang kita kehendaki.

Ada rencana tehnologi beda yang dipakai?

Terdapat beberapa hal yang memakai mekanisasi, memakai tehnologi internet, memakai artificial intelligence, robotics, bila di gudang-gudang ada pemindah material yang automated, itu menghemat saat, akurasinya tinggi serta berkelanjutan.

Bagaimana dengan kampanye negatif dari negara maksud export?

Product kami 80 % itu export. Serta jumlahnya masih tetap sama, walau dikacaukan dengan kampanye-kampanye dari sebagian riset yang dikerjakan oleh Uni Eropa, ada juga problem tarif masuk semua jenis. Tapi itu telah dikerjakan Pemerintah Indonesia juga. Hingga kita bersukur Pemerintah mensupport industri tidak untuk terhalang dengan blackcampaign itu.